Kerajaan Mataram Hindu Kerajaan di Indonesia

#7 Kerajaan Mataram Hindu 

Kerajaan mataram ( Kerajaan Mataram kuno atau Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan medang periode jawa tengah ) adalah kelanjutan dari kerajaan kalingga di jawa tengah sekitar abad ke 8 M, yang selanjutnya pindah ke propinsi jawa timur pada abad ke sepuluh. Penyebutan Mataram kuno atau mataram hindu berguna untuk membedakan kerajaan ini dengan kerajaan mataram islam yang berdiri sekitar abad ke 16. Kerajaan ini runtuh pada awal abad ke 11.

Kerajaan Mataram Hindu

Kerajaan Mataram Kuno atau yang biasa di sebut Kerajaan mataram hindu merupakan sebuah kerajaan dengan corak agraris ( pertanian ). Dari sejarah tercatat kalau terdapat 3 Wangsa atau dinasti yang pernah menguasai Kerajaan Mataram Kuno antara lain Wangsa( dinasti ) Sanjaya, Wangsa Syailendra dan Wangsa Isana. Wangsa Sanjaya adalah pemeluk Agama Hindu yang beraliran Syiwa sedang Wangsa Syailendra adalah pengikut agama Budha, dan Wangsa Isana sendiri adalah dinasti baru yang di dirikan oleh Mpu Sindok.

Wangsa atau dinasti Sanjaya kembali memegang kekuasaan di mataram setelah putri Raja Samaratungga, Ia Pramodawardhani lalu menikah dengan Rakai Pikatan yang merupakan keturunan dari dinasti sanjaya yang beragama Hindu. Dari pernikahan itulah yang membuat seorang Rakai Pikatan bisa menjadi seorang Raj. Selain itu Rakai Pikatan berhasil juga membuat tersingkirnya seorang anggota Dinasti Sailendra yang bernama Balaputradewa yang sejatinya masih saudara dari Pramodawardhani. Balaputradewa lalu mengungsi ke Kerajaan Sriwijaya yang nantinya ia akan menjadi seorang Raja disana.

Masa dari Dinasti Sanjaya berakhir pada masa pemerintahan dari Rakai Sumba Dyah Wawa. Sedangkan berakhirnya pemerintahan dari Sumba Dyah Wawa masih diperdebatkan oleh para ahli. Terdapat sebuah teori yang mengatakan jika saat itu terjadi bencana alam yang membuat pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Hancur. Kemudian Mpu Sindok menggantikan Rakai Sumba Dyah Wawa sebagai raja dan kemudian memindahkan pusat dari Kerajaan Mataram Kuno ke propinsi Jawa Timur dan ia pun membangun dinasti baru yang bernama dinasti Isana.

Pusat Kerajaan Mataram Kuno pada saat masa awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah Mataram (dekat Yogyakarta saat ini). Kemudian pada saat masa pemerintahan dari Rakai Pikatan di pindah ke daerah Mamrati (daerah Kedu).  kemudian pada saat masa pemerintahan Dyah Balitung di pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar daerah Kedu). Lalu pada saat masa Dyah Wawa di perkirakan oleh para ahli kembali di pindahkan ke daerah Mataram. Kemudian Mpu Sindok memindahkan istana Medang ke wilayah propinsi Jawa Timur karena terjadinya bencana alam yang dahsyat.

Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno

Raja pertama dari Kerajaan Mataram Kuno adalah Sanjaya yang merupakan pendiri dari dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Setelah ia wafat, Sanjaya kemudian di gantikan oleh Rakai Panangkaran yang selanjutnya ia berpindah agama Budha yang beraliran Mahayana. Saat itulah Wangsa Sayilendramulai berkuasa di bumi mataram. Pada masa itu agama Hindu dan agama Budha berkembang secara bersamaan di Kerajaan ini. Mereka yang menganut agama Hindu tinggal di wilayah Jawa Tengah sebelah utara, sedangkan mereka yang beragama Budha bermukim di Jawa Tengah sebelah selatan.

candi prambanan


Menurut informasi dari Prasasti Mantyasih (tahun 907)  Raja pertama dari Kerajaan Mataram Kuno adalah Sanjaya. Raja Sanjaya sendiri mengeluarkan Prasasti Canggal (tahun 732) tanpa menyebut dengan jelas nama dari kerajaannya. Di dalam prasasti tersebut, Raja Sanjaya menyebutkan jika terdapat seorang raja yang memimpin di pulau Jawa sebelum ia. Raja tersebut mempunyai nama Sanna atau yang biasa dikenal dengan Bratasena raja dari Kerajaan Galuh yang telah memisahkan diri dari Kerajaan Sunda.

Kekuasaan dari raja Sanna berhasil dilengserkan oleh Purbasora dan ia kemudian melarikan diri menuju Kerajaan Sunda untuk mendapat perlindungan raja sunda Tarusbawa. Tarusbawa lalu mengambil Sanjaya sebagai menantunya sendiri, sanjaya sendiri adalah keponakan dari Sanna. Setelah sanjaya naik tahta, Sanjaya mempunyai niatan untuk menguasai kembali Kerajaan Galuh. Setelah ia berhasil menguasai kerajaan Sunda, kerajaan Galuh dan kerajaan Kalingga, Lalu ia memutuskan membuat sebuah kerajaan baru yakni Kerajaan Mataram.

Dari prasasti Canggal, bisa diperoleh informasi jika Kerajaan Mataram Kuno telah berdiri dan berkembang sekitar abad ke-7 M dengan raja yang pertama adalah Sanjaya yang memiliki gelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno

Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno sejatinya merupakan dendam lama atas pengusiaran Balaputradewa oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa yang kemudian menjadi Raja dari Sriwijaya masih menyimpan dendam kepada Rakai Pikatan. Perselisihan antara dua raja tersebut lalu berkembang menjadi sebuah permusuhan turun-temurun.

Terjadi beberapa kali pertempuran antara sriwijaya dan mataram seperti pertempuran yang terjadi di daerah Anjukladang (sekarang wilayah Nganjuk, propinsi Jawa Timur) pertempuran ini di menangkan oleh Mpu Sindok ( yang pada saat itu memimpin mataram ). Kemudian ketika Raja Dharmawangsa Teguh yang adalah cicit dari Mpu Sindok memimpin. pada masa itu permusuhan Kerajaan Mataram dan Kerajaan Sriwijaya sedang memanas. Sriwijaya pernah menggempur Mataram tetapi pertempuran itu dimenangkan oleh pihak Raja Dharmawangsa.

Mahapralaya merupakan peristiwa dimana hancurnya istana Medang di propinsi Jawa Timur berdasarkan info di dalam prasasti Pucangan. Muncul dua versi pendapat tentang kapan tahun pasti runtuhnya kerajaan medang, hal ini di karenakan tahun terjadinya peristiwa tersebut tidak bisa dibaca dengan jelas. Sebagian ahli memperkirakan Kerajaan Medang runtuh pada tahun 1006, sedang yang lain memperkirakan pada tahun 1016.

Ketika dharmawangsa mengadakan pesta pernikahan putrinya, istana kerajaan Medang di serang oleh aji wurawari dari Lwaram. Ia di perkirakan merupakan sekutu dari Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa penyerangan itu, Dharmawangsa tewas.

Sumber-sumber Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Setidaknya terdapat 2 sumber sejarah utama dari Kerajaan Mataram Kuno, yaitu Prasasti dan Bangunan candi yang masih bisa kita temui hingga saat ini. Prasasti yang ditinggalkan kerajaan ini antara lain :

Prasasti Canggal, prasasti ini di temukan di halaman Candi Guning Wukir di wilayah desa Canggal mempunyai angka tahun 732 Masehi. ditulis dengan huruf pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasati ini berisi tentang cerita pendirian Lingga (atau lambang Syiwa) di wilayah desa Kunjarakunja oleh Raja Sanjaya selain itu juga menceritakan bahwa terdapat seorang raja yang memimpin pulau jawa sebelum dirinya yang bernama Sanna yang kemudian digantikan oleh Sanjaya.

Prasasti Kalasan, prasasti ini di temukan di wilayah desa Kalasan Yogyakarta mempunayi angka tahun 778 Masehi, prasasti ini ditulis dengan huruf  Pranagari dan berbahasa Sansekerta. Isi dari prasasti ini menceritakan tentang pembuatan bangunan suci bagi dewi Tara dan banguanan biara bagi para pendeta oleh Raja Pangkaran atas permintaan dari keluarga Syailendra.

Prasasti Mantyasih, prasasti ini di temukan di wilayah Mantyasih Kedu, propinsi Jawa Tengah mempunyai angka tahun 907 Masehi, prasasti ini berbahasa Jawa Kuno. prasasti ini berisi daftar silsilah raja-raja Mataram.

Prasasti Klurak, prasasti ini di temukan di wilayah desa Prambanan mempunayi angka tahun 782 Masehi, prasasti ini ditulis dengan huruf Pranagari dan berbahasa Sansekerta, berisi tentang pembuatan Acra Manjusri oleh Raja Indra.

Selain meninggalkan peninggalan Prasasti, Kerajaan medang juga meninggalkan peninggalan yang berupa bangunan candi yang masih bisa kita lihat sampai saat ini. Candi-candi tersebut diantaranaya :

    Candi Kalasan.

 Candi Kalasan

    Candi Plaosan.

Candi Plaosan

    Candi Prambanan.

Candi Prambanan

    Candi Sewu.

Candi Sewu


    Candi Mendut.

 Candi Mendut

    Candi Pawon.

Candi Pawon

    Candi Sambisari.

Candi Sambisari

    Candi Sari.

 Candi Sari.

    Candi Kedulan.

  Candi Kedulan

    Candi Morangan.

Candi Morangan

    Candi Ijo.

Candi Ijo

    Candi Barong.

Candi Barong

    Candi Sojiwan.

Candi Sojiwan

    Candi Borobudur.

Candi Borobudur.


Raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Mataram Kuno diantaranya adalah :

    Sanjaya, pendiri Kerajaan Mataram Kuno
    Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Sailendra
    Rakai Panunggalan alias Dharanindra
    Rakai Warak alias Samaragrawira
    Rakai Garung alias Samaratungga
    Rakai Pikatan suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
    Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
    Rakai Watuhumalang
    Rakai Watukura Dyah Balitung
    Mpu Daksa
    Rakai Layang Dyah Tulodong
    Rakai Sumba Dyah Wawa
    Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
    Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
    Makuthawangsawardhana
    Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Mataram Kuno runtuh .

Sumber : wikipedia indonesia   - Kopi Ireng

-- Image by Googe Image Search --

Semoga Bermanfaat
TAN

Kerajaan mataram ( Kerajaan Mataram kuno atau Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan medang periode jawa tengah ) adalah kelanjutan dari kerajaan kalingga di jawa tengah sekitar abad ke 8 M, yang selanjutnya pindah ke propinsi jawa timur pada abad ke sepuluh. Penyebutan Mataram kuno atau mataram hindu berguna untuk membedakan kerajaan ini dengan kerajaan mataram islam yang berdiri sekitar abad ke 16. Kerajaan ini runtuh pada awal abad ke 11.

Kerajaan Mataram Kuno atau yang biasa di sebut Kerajaan mataram hindu merupakan sebuah kerajaan dengan corak agraris ( pertanian ). Dari sejarah tercatat kalau terdapat 3 Wangsa atau dinasti yang pernah menguasai Kerajaan Mataram Kuno antara lain Wangsa( dinasti ) Sanjaya, Wangsa Syailendra dan Wangsa Isana. Wangsa Sanjaya adalah pemeluk Agama Hindu yang beraliran Syiwa sedang Wangsa Syailendra adalah pengikut agama Budha, dan Wangsa Isana sendiri adalah dinasti baru yang di dirikan oleh Mpu Sindok.

Wangsa atau dinasti Sanjaya kembali memegang kekuasaan di mataram setelah putri Raja Samaratungga, Ia Pramodawardhani lalu menikah dengan Rakai Pikatan yang merupakan keturunan dari dinasti sanjaya yang beragama Hindu. Dari pernikahan itulah yang membuat seorang Rakai Pikatan bisa menjadi seorang Raj. Selain itu Rakai Pikatan berhasil juga membuat tersingkirnya seorang anggota Dinasti Sailendra yang bernama Balaputradewa yang sejatinya masih saudara dari Pramodawardhani. Balaputradewa lalu mengungsi ke Kerajaan Sriwijaya yang nantinya ia akan menjadi seorang Raja disana.

Masa dari Dinasti Sanjaya berakhir pada masa pemerintahan dari Rakai Sumba Dyah Wawa. Sedangkan berakhirnya pemerintahan dari Sumba Dyah Wawa masih diperdebatkan oleh para ahli. Terdapat sebuah teori yang mengatakan jika saat itu terjadi bencana alam yang membuat pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Hancur. Kemudian Mpu Sindok menggantikan Rakai Sumba Dyah Wawa sebagai raja dan kemudian memindahkan pusat dari Kerajaan Mataram Kuno ke propinsi Jawa Timur dan ia pun membangun dinasti baru yang bernama dinasti Isana.

Pusat Kerajaan Mataram Kuno pada saat masa awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah Mataram (dekat Yogyakarta saat ini). Kemudian pada saat masa pemerintahan dari Rakai Pikatan di pindah ke daerah Mamrati (daerah Kedu).  kemudian pada saat masa pemerintahan Dyah Balitung di pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar daerah Kedu). Lalu pada saat masa Dyah Wawa di perkirakan oleh para ahli kembali di pindahkan ke daerah Mataram. Kemudian Mpu Sindok memindahkan istana Medang ke wilayah propinsi Jawa Timur karena terjadinya bencana alam yang dahsyat.

Berdirinya Kerajaan Mataram Kuno

Raja pertama dari Kerajaan Mataram Kuno adalah Sanjaya yang merupakan pendiri dari dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Setelah ia wafat, Sanjaya kemudian di gantikan oleh Rakai Panangkaran yang selanjutnya ia berpindah agama Budha yang beraliran Mahayana. Saat itulah Wangsa Sayilendramulai berkuasa di bumi mataram. Pada masa itu agama Hindu dan agama Budha berkembang secara bersamaan di Kerajaan ini. Mereka yang menganut agama Hindu tinggal di wilayah Jawa Tengah sebelah utara, sedangkan mereka yang beragama Budha bermukim di Jawa Tengah sebelah selatan. - See more at: http://www.kopi-ireng.com/2015/03/kerajaan-mataram-kuno.html#sthash.ShMRx3HO.dpuf
Previous
Next Post »